Antara aku dan dia
Ketika wirid di malam jumat lalu mendekati akhir, suasana di luar mulai berangin. Sepertinya langit akan menumpahkan air kehidupannya. Dalam hati saya was-was juga, sebab saat pergi tadi tak membawa payung atau kendaraan. Benar saja, ketika kendurian selesai dibagikan, hujan akhirnya turun. Rintik-rintik..pelan tapi pasti kemudian menderas. Akhirnya niat melangkah pulang terpaksa diurungkan.
Meski begitu beberapa nekat melangkah pulang. Mendekap plastik kendurian di dada, sambil berlari kecil. Melihat gambaran demikian, pikiran saya teringat sebuah cerita dalam sebuah buku, tentang seorang yang berlari dalam deras hujan sambil menenteng pecel lele. Kira-kira begini..




