Antara Aku dan Dia
Posted by dhuhafani on October 29, 2008
Antara aku dan dia
Ketika wirid di malam jumat lalu mendekati akhir, suasana di luar mulai berangin. Sepertinya langit akan menumpahkan air kehidupannya. Dalam hati saya was-was juga, sebab saat pergi tadi tak membawa payung atau kendaraan. Benar saja, ketika kendurian selesai dibagikan, hujan akhirnya turun. Rintik-rintik..pelan tapi pasti kemudian menderas. Akhirnya niat melangkah pulang terpaksa diurungkan.
Meski begitu beberapa nekat melangkah pulang. Mendekap plastik kendurian di dada, sambil berlari kecil. Melihat gambaran demikian, pikiran saya teringat sebuah cerita dalam sebuah buku, tentang seorang yang berlari dalam deras hujan sambil menenteng pecel lele. Kira-kira begini..
..pemuda 20an itu berjalan tergesa menuju lesehan pecel lele. Di kepalanya masih terpakai sebuah peci putih..lusuh. Sepertinya dia habis Isya di mesjid. Pakaiannya sederhana..di beberapa tempat kainnya malah sudah tergerus usia. Serupa dengan celana panjangnya. Tapi ia melangkah pasti dengan sandal jepit setianya.
Sementara tangan sang penjual sibuk menyiapkan pesanan orang, pemuda tadi berusaha merapat ke dalam. Rupanya ramai benar warung itu..seperti biasanya. Tapi hujan rerintik mulai turun. Tak ada pilihan kecuali sedikit berdesakan.
Akhirnya gilirannya tiba
“Pesan apa mas?” penjual menyapa ramah.
“Pecel lele nya satu, dibungkus ya mas” jawab pemuda tadi.
Ketika pesanan sampai di tangan, hujan bertambah deras. Terdiam berpikir sebentar, sang pemuda meneruskan langkahnya keluar. Dengan hati-hati, dibungkusnya pecel lele miliknya, didekap dalam dada, dipayungi dengan peci lusuhnya. Kemudian melangkah panjang-panjang.
Tak berapa lama, sampai juga dirinya di depan pagar mungil rumah kontrakannya yang juga mungil. Sandal jepitnya entah kemana, mungkin putus di tengah jalan. Melangkah di masuk ke dalam halaman, bersamaan dengan itu pintu rumahnya dibuka. Seseorang berdiri tersenyum menyambutnya.
“Assalamu’alaikum dek, lama ya?” pemuda tadi menyapa.
“Wa’alaikumsalam, Mas kehujanan gini, kenapa g nunggu hujannya berenti si? kasian klo sampe sakit?” sahut suara lembut dari istri pemuda tadi.
Tersenyum sang pemuda mengeluarkan bungkusan plastik. Menyerahkan isinya untuk istri terkasihnya yang baru beberapa bulan dinikahinya. “nih dek, mas beliin pecel lele tadi. Tapi cuma satu, buat adek aja, mas nggak lapar koq. Ini buat adek ma calon anak kita nanti.” Sambil tangannya mengelus pelan perut sang istri..
Saya tidak tahu bagaimana kalian menilai mereka. Percayalah sebagian diri saya akan mengasihani mereka, mungkin malah “mencaci” mereka, “Koq mereka nekat nikah, padahal hidup mereka sendiri belum mapan.”, atau “itulah bila menikah dini, mengganggap rezeki akan gampang padahal belum ada pekerjaan.
Haha..itukan pikiran saya. Tapi tidak dengan sang pemuda tadi. Pasti dia tidak berharap keadaan akan seperti ini terus, tapi dalam sesaat hadir dalam relung hatinya nilai kepahlawanan dirinya, rasa tanggungjawab sebagai pelindung istrinya. Itu sudah cukup membuatnya berbahagia akan dirinya.
Begitupun dengan sang istri. Bidadari itu benar-benar jatuh dalam perasaan. Cintanya tumbuh dalam setiap suapan nasi pecel lele itu. Tak ada keluh. Karena Tuhan telah memberikannya selimut..




